Text
DOOMSCROLLING DI ERA DIGITAL: EKSPLORASI KUALITATIF TENTANG PENGALAMAN DAN PERSEPSI MAHASISWA DI UNIVERSITAS ISLAM RIAU
Fenomena doomscrolling semakin meningkat seiring perkembangan media sosial sebagai sumber utama informasi. Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang rentan mengalami perilaku ini karena tingginya intensitas penggunaan media sosial serta kebutuhan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi. Doomscrolling yang dilakukan secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis maupun akademik. Kondisi ini berpotensi merusak kualifikasi akademik serta mengganggu kesejahteraan mental mahasiswa secara jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman dan persepsi mahasiswa terhadap perilaku doomscrolling di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi. Unit analisis dalam penelitian ini terdiri atas tiga mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan pengalaman melakukan doomscrolling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, sedangkan analisis data menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke (2006). Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku doomscrolling dipengaruhi oleh rasa ingin tahu, kebutuhan memperoleh informasi terkini, pengaruh algoritma media sosial, serta dorongan untuk mengurangi kejenuhan akademik dan menghindari rasa tertinggal dalam lingkungan sosial. Meskipun menyadari dampak negatifnya, seluruh informan tetap melakukan doomscrolling karena merasa perlu mengikuti perkembangan informasi. Perilaku tersebut berdampak pada meningkatnya kecemasan, overthinking, kelelahan mental, penurunan produktivitas akademik, serta munculnya kekhawatiran terhadap masa depan. Berdasarkan hasil penelitian, mahasiswa disarankan untuk meningkatkan kesadaran dalam menggunakan media sosial, mengelola waktu secara lebih bijaksana, serta membatasi paparan informasi negatif agar dampak psikologis dari perilaku doomscrolling dapat diminimalkan. Peran aktif pihak kampus juga sangat diperlukan melalui penyediaan sarana konseling serta edukasi literasi digital secara berkelanjutan. Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat dan responsif terhadap isu kesehatan mental di era modern. Dengan demikian, mahasiswa dapat tetap terinformasi tanpa harus mengorbankan kualitas hidup dan performa akademis mereka.
No other version available