Text
Belajar dari Perpisahan: Makna Pernikahan bagi Dewasa Awal yang Orang Tua nya Bercerai
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna pernikahan pada dewasa awal yang memiliki latar belakang perceraian orang tua. Pengalaman perceraian orang tua dapat mempengaruhi cara individu memaknai pernikahan, komitmen, serta kesiapan dalam membangun kehidupan berkeluarga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan penelitian berjumblah tiga orang dewasa awal berusia 20-30 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan peningkatan ketekunan. Hasil penelitian menunjukan bahwa seluruh partisipan memaknai pernikahan sebagai ikatan yang sakral, penuh komitmen, dan memerlukan kesiapan mental serta emosi yang matang. Pengalaman perceraian orang tua memengaruhi cara partisipan memandang pernikahan sehingga muncul perasaan ambivalen, yaitu keinginan untuk membangun keluarga yang harmonis disertai kekhawatiran terhadap kemungkinn terjadinya konflik, kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, maupun perceraian. Meskipun demikian, pengalaman tersebut tidak menghilangkan keinginan partisipan untuk menikah. Sebaliknya, partisipan memiliki harapan untuk membangun kehidupan pernikahan yang lebih sehat, harmonis, dan penuh komitmen dibandingkan pengalaman keluarga asal mereka. Temuan penelitian ini menunjukan bahwa pengalaman perceraian orang tua tidak selalu membentuk pandangan negatif terhadap pernikahan, tetapi mendorong individu untuk memaknai pernikahan secara lebih reflektif dan mempersiapkan diri secara lebih matang.
No other version available