Art Original
Merekonstruksi Perilaku Flexing di Media Sosial Melalui Aspek Etika Bermedia, Budaya Lokal, dan Religi
Flexing di media sosial sering direduksi sebagai perilaku narsistik dan konsumtif, sehingga mengabaikan kompleksitas komunikatif, kultural, dan etisnya. Kajian sebelumnya didominasi pendekatan psikologis dan konsumerisme, sementara analisis sebagai praktik komunikatif yang bergantung pada konteks etika, budaya, dan agama masih terbatas. Penelitian ini merekonstruksi makna flexing melalui integrasi etika media, nilai budaya lokal, dan moral Islam. Dengan pendekatan kualitatif melalui Narrative Literature Review (NLR), studi ini mensintesis literatur interdisipliner (2021–2025) dari basis data akademik dan mesin pencari ilmiah. Analisis dilakukan melalui ekstraksi konsep, pengelompokan tematik, perbandingan interpretatif, dan rekonstruksi integratif. Hasil menunjukkan lima bentuk flexing (material, prestise, estetika, soft, dan moral), tiga faktor kontekstual (struktur etika digital, nilai budaya, dan etika media Islam), serta kesinambungan historis dalam praktik display status. Studi ini mengusulkan konsep ethical flexing sebagai bentuk presentasi diri digital yang kontekstual, ditandai oleh autentisitas, proporsionalitas, dan tanggung jawab sosial, serta menggeser diskursus dari pelabelan moral menuju negosiasi etis.
No other version available