Text
KOMUNIKASI SIMBOLIK DALAM TRADISI LISAN BASIACUONG PERNIKAHAN ADAT MELAYU GUNUNG SAHILAN KABUPATEN KAMPAR
Penelitian ini bertujuan memahami sistem tanda dalam tradisi lisan basiacuong pada pernikahan adat Melayu Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar, menggunakan kerangka semiotika Ferdinand de Saussure. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi di Desa Kebun Durian serta Desa Gunung Sahilan sebagai triangulasi, informan dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan penanda basiacuong terwujud dalam tiga bentuk: material (cano), prosedural (rantai penyampaian kata berlapis), dan verbal (petatah-petitih). Petandanya mencakup penghormatan, hierarki dan musyawarah, serta nilai kolektif seperti kesepakatan dan tanggung jawab bersama. Relasi penanda-petanda bersifat arbitrer, artinya tidak terikat hubungan alami antara bentuk dan makna, melainkan terbentuk melalui konvensi sosial, yakni kesepakatan bersama yang disepakati dan diwariskan turun-temurun oleh komunitas pemakainya. Relasi ini berfungsi mereproduksi tatanan sosial dan memelihara identitas budaya. Meski menghadapi tantangan modernisasi, pelestarian tetap dilakukan melalui sosialisasi, lomba petatah-petitih, dan pewarisan nilai di rumah sompu.
No other version available