Text
ANALISIS KETERGANTUNGAN EKONOMI INDONESIA TERHADAP JEPANG DALAM SEKTOR OTOMOTIF: STUDI KASUS IMPOR BAHAN BAKU MOBIL KOMPONEN MESIN TAHUN 2021-2024
Skripsi ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap Jepang dalam sektor otomotif, khususnya pada impor bahan baku mobil berupa komponen mesin selama periode 2021-2024 pada 4 tahun ini akan menunjukan rasio pada tahun berapa puncak tertinggi tingkat ketergantungan. Tingginya dominasi Jepang sebagai pemasok komponen otomotif dan investor utama di Indonesia menunjukkan adanya hubungan ekonomi yang bersifat asimetris, sehingga berpotensi menimbulkan ketergantungan struktural. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui studi kepustakaan (library research) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Perindustrian, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), dokumen Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), serta berbagai jurnal dan literatur ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan berdasarkan teori ketergantungan (Dependency Theory). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap Jepang di sektor otomotif masih berstatus sangat tinggi dan bersifat struktural. Berdasarkan kerangka analisis, ketergantungan ini secara langsung didorong oleh empat faktor utama yaitu tingginya kebutuhan impor komponen mesin spesifik, khususnya pada klasifikasi HS 8407–8408, kuatnya dominasi investasi korporasi Jepang yang mengendalikan ekosistem otomotif nasional, keterbatasan penguasaan teknologi serta kapasitas produksi lokal untuk komponen presisi tinggi; dan pergeseran rantai pasok global pasca-pandemi yang justru membuat prinsipal Jepang semakin memusatkan produksi komponen intinya di negara asal demi keamanan pasokan. Analisis terhadap tren perdagangan 2021–2024 membuktikan bahwa peningkatan produksi mobil di Indonesia selalu diikuti oleh lonjakan impor mesin, dengan rasio ketergantungan impor komponen terhadap Jepang secara konsisten bertahan di atas angka 40%. Jepang memegang peran absolut sebagai pemasok utama jantung kendaraan tersebut. Di sisi regulasi, implementasi kebijakan Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) maupun upaya industrialisasi nasional terbukti belum mampu mengurai rantai ketergantungan ini akibat tidak berjalannya transfer teknologi secara optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa posisi industri otomotif Indonesia masih terjebak pada rantai perakitan terbawah (assembly trap), sehingga mendesak adanya reorientasi kebijakan yang berfokus pada kemandirian riset, penguatan manufaktur lokal, dan diversifikasi kemitraan global.
No other version available