Text
Analisis keekomian matrix acidizing berdasarkan kontrak psc dan gross split pada sumur x
Penurunan laju produksi minyak menjadi tantangan untuk dilakukan optimasi produksi minyak. Penurunan laju produksi pada sumur X terjadi akibat adanya penyumbatan disekitar lubang perforasi sumur. Hal ini perlu dilakukan optimasi produksi untuk mendapatkan perolehan minyak yang lebih baik dari sebelumnya. Oleh sebab itu, treatment yang cocok pada permasalahan tersebut adalah matrix acidizing.Sistem kontrak cost recovery telah diatur oleh Undang-Undang nomor 22 Tahun 2001 dengan adanya cost recovery. Sedangkan kontrak PSC gross split merupakan sistem kontrak bagi hasil yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2017. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian keekonomian kontrak bagi hasil untuk mengetahui keekonomian dari matrix acidizing yang dilakukan pada sumur X dengan sistem kontrak PSC cost recovery dan sistem kontrak gross split. Berdasarkan analisis hasil dan perhitungan keekonomian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa matrix acidizing yang dilakukan pada sumur X dengan menggunakan sistem kontrak gross split lebih baik dari pada menggunakan sistem kontrak PSC cost recovery. Nilai NPV, IRR dan POT dengan kontrak gross split yaitu sebesar 209.5 MUS $, 795%, dan 0.123 tahun. Sedangkan nilai NPV, IRR, dan POT dengan kontrak PSC cost recovery yaitu sebesar 78.10 MUS $, 340%, dan 0.26 tahun. Selain itu, cost recovery yang didapatkan kontraktor dengan menggunakan kontrak PSC cost recovery didapatkan hasil sebesar MUS $ 139.59.
No other version available