Text
INOVASI GOBERMASA DALAM PELAYANAN PUBLIK DI KANTOR CAMAT BUKIT BATU KABUPATEN BENGKALIS
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendalam implementasi inovasi pelayanan publik GO-BERMASA di Kantor Camat Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, dengan menggunakan pisau analisis Teori Difusi Inovasi dari Everett M. Rogers. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi berbagai faktor penghambat yang membatasi efektivitas program di lapangan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci (Camat, Sekretaris Kecamatan, Kepala Seksi Pelayanan Umum, admin loket PATEN, driver armada zonasi, tokoh masyarakat, dan warga pengguna layanan), observasi lapangan, serta dokumentasi sekunder. Hasil penelitian berdasarkan lima atribut difusi inovasi Rogers menunjukkan bahwa: (1) Keuntungan Relatif (Relative Advantage), inovasi ini memberikan efisiensi biaya (cost efficiency) dan kepastian waktu (time certainty) yang signifikan bagi warga desa pinggiran melalui jaminan gratis One Day Service. (2) Kesesuaian (Compatibility), program ini sangat selaras dengan regulasi formal (UU Nomor 23 Tahun 2014 dan Perbup Bengkalis Nomor 77 Tahun 2021), budaya kerja ramah melayani di loket PATEN, serta karakteristik sosiologis maritim-agraris masyarakat setempat. (3) Kerumitan (Complexity), alur pendaftaran dirancang sangat sederhana bagi warga, namun memicu kerumitan koordinasi tinggi di internal instansi akibat keterbatasan logistik. (4) Kemungkinan Dicoba (Trialability), program telah melalui manajemen risiko yang matang lewat fase piloting tiga bulan di dua desa serta simulasi rute petugas. (5) Easily Observed (Observability), transparansi hasil dikelola secara akuntabel lewat publikasi multiplatform serta pembagian resi pelacakan dokumen fisik di lapangan. Meskipun memiliki capaian kinerja tinggi (merampungkan 1.245 dokumen pada 2024), efektivitas GO-BERMASA masih dihambat oleh tiga faktor kritis, yaitu keterbatasan sarana prasarana fisik (hanya tersedia 2 unit sepeda motor operasional untuk melayani 10 desa), kelemahan infrastruktur teknologi berupa titik tanpa sinyal (blank spot) di pedesaan terjauh, serta tantangan geografis spasial ekstrem (jarak rute hingga ±45 km) yang diperparah oleh faktor cuaca buruk dan akses jalan yang rusak berlumpur. Penelitian ini merekomendasikan perlunya pengadaan tambahan unit armada motor secara bertahap, intervensi jaringan internet digital bersama Dinas Kominfo, penguatan insentif keselamatan kerja bagi para driver, serta pelembagaan regulasi program ke tingkat Peraturan Bupati demi menjamin keberlanjutan (sustainability) inovasi ke depan.
No other version available