Text
Strategi Pengembangan Agribisnis Sayuran Kangkung Di Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis
Kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari masyarakat, namun pengembangannya masih dihadapkan pada permasalahan rendahnya produktivitas, manajemen usahatani tradisional dan tindakan pasca panen sederhana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani/pedagang dan profil usahatani, subsistem penyediaan sarana produksi, usahatani, agroindustri, pemasaran, strategi pengembangan dan implikasi kebijakan strategi pengembangan agribisnis sayuran kangkung. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis dengan metode survey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Rata-rata umur petani 47,9 tahun dan rata-rata umur pedagang 44,7 tahun. Rata-rata pendidikan petani 11,3 tahun dan pedagang 12,1 tahun. Pengalaman berusahatani petani 5,5 tahun dan pedagang 11,4 tahun. Jumlah rata-rata tanggungan keluarga petani dan pedagang adalah 3 orang. (2) Penyediaan sarana produksi benih, pupuk, pestisida dan tenaga kerja dari segi ketepatan waktu, jumlah, jenis dan mutu 98% s.d 100% tepat dan dari segi harga yang belum tepat. (3) Penerapan teknologi budidaya sudah sesuai rekomendasi kecuali lebar bedengan, jarak tanam, penyulaman dan penggunaan pupuk/pestisida yang masih dibawah dosis anjuran. Produktivitasnya masih rendah (±57%). Pendapatan bersih sebesar Rp.48.370.779,72/ha, sedangkan biayanya sebesar Rp47.555.013,44 dengan komponen biaya terbesar adalah biaya tenaga kerja (78,9%). Nilai RCR 2,02, BEP unit 69,014 kg/ha dan BEP Rupiah Rp.572.816,33/ha. (4) Jumlah rata-rata pendapatan kotor agroindustri cah kangkung Rp.4.502.960,00/bln dengan biaya Rp.2.445.705/bln. Pendapatan bersihnya Rp. 2.057.255/bln. Efisiensi agroindustri sebesar 1,84. Nilai tambah sebesar Rp 17.111,00 dengan rasio nilai tambah 57,10%. (5) Saluran pemasaran sayuran kangkung terdiri dari nol tingkat dan satu tingkat. Margin pemasaran sebesar 25,23%. Profit margin sebesar 23,43%, sedangkan efisiensi pemasaran diperoleh nilai 1,76%. Nilai farmer,s share adalah 74,77% sehingga saluran pemasaran efisien. (6) Tingkat kepuasan petani pada peran komunikator Penyuluhan Pertanian sebesar 98,4%, edukator 86,7%, motivator 95,2% dan fasilitator 86,7%. Peran pemerintah berupa bantuan benih, pupuk/pestisida, pembinaan dan pendampingan serta pelayanan kepada petani. (7) Hasil SWOT yaitu strategi SO dengan cara memanfaatkan kekuatan untuk mendapatkan peluang dan matriks IE berada pada daerah II yaitu tumbuh dan membangun dengan strategi penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk dan strategi integratif. (8) Implikasi kebijakan strategi pengembangan agribisnis sayuran kangkung di Kecamatan Bengkalis yaitu: berupaya meningkatkan produktivitas dan melakukan efisiensi usahatani, menjalin kerjasama dengan pedagang saprodi, meningkatkan kualitas produk menjadi lebih organik, meningkatkan nilai tambah dengan cara memperbaiki bentuk kemasan agar lebih higienis dan menciptakan agroindustri pengolahan sayuran kangkung menjadi produk makanan yang lebih tahan lama, rasa yang enak dan disukai konsumen.
No other version available