ETD - UIR

Electronic Thesis and Dissertation

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
    Member Login Online Registration
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject NPM Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Politik Hukum Terkait Dengan Perluasan Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Penambahan Norma/frasa (studi Kasus Putusan Mk Nomor 90/puu/xxi/2023)
Bookmark Share

Art Original

Politik Hukum Terkait Dengan Perluasan Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Penambahan Norma/frasa (studi Kasus Putusan Mk Nomor 90/puu/xxi/2023)

Fridesnelli - Personal Name; Yusri Munaf - Personal Name; Ellydar Chaidir - Personal Name;

Pasca Mahkamah Konstitusi membahas beberapa putusan uji konstitusionalitas Pasal 169 huruf (q) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang pemilihan umum yang mengatur batasan usia minimal calon Presiden dan Wakil Presiden menimbulkan persoalan dimana Mahkamah menambah norma/frasa perbedaan pendapat di Masyarakat terkait evaluasi keputusan tersebut. Pendukung dan penentang putusan Mahkamah Konstitusi, khususnya pada perkara Nomor 90/PUU-XXI/2023 Tak sedikit yang berkomentar berbeda atas putusan Mahkamah Konstitusi. Putusan tersebut di antaranya adalah putusan salah satu hakim yang menimbulkan heboh dan sejumlah komentar Masyarakat, yakni putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 90/PUU-XXI/2023, yang menyatakan bahwa beberapa permintaan telah dipertimbangkan oleh keputusannya, yang dimana tertuju pada calon Presiden dan Wakil Presiden minimal 40 tahun. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif melalui studi kepustakaan/studi dokumen. Jenis Pendekatan yang digunakan pada penelitian hukum normatif ini ialah pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach). Hasil penelitian menunjukkan dengan mempertimbangkan petitum Pemohon pada petitum pilihan/pengganti yaitu “ex aequo et bono” yang tertera dalam petitum permohonan Pemohon, serta demi memenuhi kepastian hukum yang adil, maka menurut Mahkamah Konstitusi pemaknaan yang tepat untuk rumusan norma a quo adalah berusia paling rendah 40 (empat puluh) tahun atau pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum termasuk pemilihan kepala daerah. Bahwa perumusan norma baru dalam putusan yang menunjukkan seolah-olah MK sebagai positive legislator, akibat hukum yang muncul bukan kepada putusan MK tersebut, namun kepada hakim MK yang memiliki konflik kepentingan.


Availability
#
Ilmu Hukum (Pascasarjana) Hukum 342.598 Fri p
244221
Available but not for loan - ETD
Detail Information
Call Number
342.598
Language
Indonesia
NPM
221022234
Publisher
Ilmu Hukum : Universitas Islam Riau., 2024
Keyword(s)
Mahkamah Konstitusi
Politik, Hukum
Kewenangan,
Other Information
Petugas
Teguh
Other version/related

No other version available

File Attachment
  • Please login to see this attachment
Comments

You must be logged in to post a comment

ETD - UIR
  • Information
  • Services
  • Librarian
  • Member Area

About Us

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Search

start it by typing one or more keywords for title, author or subject

Keep SLiMS Alive Want to Contribute?

© 2026 — Senayan Developer Community

Powered by SLiMS
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search
Where do you want to share?