Art Original
Analisis Kelayakan Usaha Ayam Petelur Pada Badan Usaha Milik Desa (bumdes) Pemuda Berkarya Di Kecamatan Sungai Lala Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau
Permintaan telur ayam di Indonesia terus mengalami peningkatan akibat meningkatnya jumlah penduduk , kesadaran akan pentingnya gizi bagi keluarga. Permintaan telur yang meningkat tidak selaras dengan jumlah produksi telur, sehingga terpaksa di beberapa daerah harus mendatangkan telur dari daerah lain. Permintaan telur yang meningkat ini merupakan peluang bisnis yang sangat besar karena meningkatnya jumlah penduduk dan industri makanan yang menggunakan bahan telur. Berdasarkan data produksi dan konsumsi telur ayam di Kabupaten Indragiri hulu dapat diketahui bahwa jumlah produksi telur ayam masih rendah yaitu rata – rata 3,386 Ton/tahun sehingga belum dapat memenuhi kebutuhan konsumsi telur perkapita yaitu 2.784 ton/tahun. Potensi ini mulai dikembangkan oleh BUMDes Pemuda Berkarya yang menjalankan usahanya selama tiga tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik pengurus, tenaga kerja dan profil usaha BUMDes, usaha ternak ayam petelur, kelayakan finansial dan non finansial dengan metode konvensional dan metode Syariah (Hamdi’s Model) dan upaya pengembangan usaha ayam petelur pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pemuda Berkarya di kecamatan Sungai Lala kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Metode yang digunakan adalah metode survey. Sampel yang digunakan berjumlah 7 orang yang dipilih secara purposif. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis karakteristik pengurus, tenaga kerja dan profil usaha BUMDes. Aspek finansial pada penelitian ini menggunakan metode konvensional dan metode syariah (Hamdi’s Model). Pada metode konvesional analisis data dengan menghitung Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return ( IRR ), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Periode (PP), sedangkan pada metode syariah (Hamdi’s Model) dengan menghitung Gold Value Method (GVM), Gold Indeks (GI) dan Investible Surplus Methode (ISM). Sedangkan Aspek Non Finansial di analisis secara deskriftif. Hasil penelitian menunjukkan proses produksi dilakukan dengan pemeliharaan ayam/pullet umur 20 minggu hingga masa afkir 2,5 tahun. Biaya produksi yang dikeluarkan yaitu senilai Rp 210.629.120/periode produksi dengan penerimaan senilai Rp 256.255.500/periode produksi, keuntungan yang diperoleh senilai Rp 45.626.380 /periode produksi. Efisiensi usaha (R/C Ratio) diperoleh sebesar 1,2 (> 1), yang artinya usaha ini memiliki margin keuntungan yang positif. Hingga akhir umur proyek (6 tahun) usaha ayam petelur membutuhkan total biaya investasi awal senilai Rp 60.797.000. Berdasarkan kriteria kelayakan investasi menunjukkan bahwa NPV diperoleh Rp 157.240.396 (> 0), IRR sebesar 57,8% (> 8,3%), Net B/C sebesar 1,3 (> 1) dan payback period 3,53 tahun (< 10 tahun), artinya layak untuk diusahakan. Hasil analisis Hamdi’s Method menunjukkan bahwa usaha tersebut layak, dengan nilai GVM 47,19 gram emas dan GI sebesar 1,80 dan ISM sebesar 20,77 %.
No other version available