ETD - UIR

Electronic Thesis and Dissertation

  • Home
  • Information
  • News
  • Help
  • Librarian
  • Member Area
    Member Login Online Registration
  • Select Language :
    Arabic Bengali Brazilian Portuguese English Espanol German Indonesian Japanese Malay Persian Russian Thai Turkish Urdu

Search by :

ALL Author Subject NPM Advanced Search

Last search:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Ambiguitas Pelaksanaan Autopsi Forensik Dalam Pengungkapan Tindak Pidana Pembunuhan Di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru
Bookmark Share

Art Original

Ambiguitas Pelaksanaan Autopsi Forensik Dalam Pengungkapan Tindak Pidana Pembunuhan Di Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru

Muhammad Ismiraz Laowe - Personal Name; David Hardiago - Personal Name;

Masih adanya kelemahan berupa ketidak-jelasan, ketidak-lengkapan dan masih terpisah-pisahnya pengaturan autopsi forensik dalam peraturan perundangundangan di Indonesia, terutama mengenai kedudukan hukum bagi pihak keluarga korban dalam perizinan pemeriksaan jenazah, karena itu dapat mengganggu penyidik kepolisian dalam proses pengungkapan kasus tindak pidana pembunuhan. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaiamana legal standing keluarga korban dalam pelaksanaan autopsi forensik guna pengungkapan tindak pidana pembunuhan dan bagaimana proyeksi peraturan autopsi forensik dalam perkara pidana dimasa mendatang. Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penlitian kepustakaan (Normatif). Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer yang diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan narasumber yang telah ditentukan dan sumber data sekunder yang diperoleh dari berbagai literature dan peraturan perundang-undangan. Dan sifat penelitian ini yaitu deskriptif analitis. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa, Pertama , bahwa apabila penyidik sudah meminta untuk dilakukan pemeriksaan bedah mayat maka bersifat mutlak atau obligatory dan tidak dapat ditolak. Maka diperlukan surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum dari penyidik, izin keluarga tidak diperlukan, bahkan apabila ada seseorang menghalang-halangi pelaksanaan autopsi forensik dapat dituntut berdasarkan ketentuan yang berlaku. Kedua, bahwa dalam hal aturan autopsi forensik sesuai dengan Pasal 133 dan 134 Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana, ini dilakukan bukan dengan mekanisme reformasi parsial atau merubah dan menambah beberapa aturan dan ketentuan baru pada undang-undang sebelumnya yakni Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, melainkan dengan cara reformasi total, yakni mengubah keseluruhan aturan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, karena Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana yang diterbitkan pada 1981 sudah kurang efektif, karena hukum di Indonesia mengikuti perkembangan zaman.


Availability
#
Ilmu Hukum (Fakultas Hukum) Hukum 345.01 Muh A
242884
Available but not for loan - ETD
Detail Information
Call Number
-
Language
NPM
201010297
Publisher
Ilmu Hukum : Universitas Islam Riau., 2024
Keyword(s)
Kata Kunci : Ambiguitas, Autopsi Forensik, Rumah S
Other Information
Petugas
Budi Santoso
Other version/related

No other version available

File Attachment
  • Please login to see this attachment
Comments

You must be logged in to post a comment

ETD - UIR
  • Information
  • Services
  • Librarian
  • Member Area

About Us

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Search

start it by typing one or more keywords for title, author or subject

Keep SLiMS Alive Want to Contribute?

© 2026 — Senayan Developer Community

Powered by SLiMS
Select the topic you are interested in
  • Computer Science, Information & General Works
  • Philosophy & Psychology
  • Religion
  • Social Sciences
  • Language
  • Pure Science
  • Applied Sciences
  • Art & Recreation
  • Literature
  • History & Geography
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Advanced Search
Where do you want to share?