Text
KESEJAHTERAAN PSIKOLGIS REMAJA AKHIR DENGAN ORANG TUA TUNGGAL: STUDI DESKRIPTIF
Remaja adalah masa transisi dari anak-anak ke dewasa dengan perubahan biologis, kognitif, psikososial, dan emosional yang signifikan. Selama periode ini, remaja sering menghadapi gejolak emosional yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menghambat kreativitas. Kehilangan salah satu figur penting karena kematian orang tua dapat menimbulkan perasaan sedih, putus asa, kehilangan semangat belajar, hingga depresi pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran psychological well-being pada remaja akhir yang dibesarkan oleh orang tua tunggal (cerai mati) pada 388 remaja akhir di Pekanbaru yang dibesarkan oleh orang tua tunggal (cerai mati), yang sering menghadapi gejolak emosional dan dampak kehilangan. Penelitian deskriptif kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner skala PWB Ryff (1989) (20 item, 6 dimensi) dengan Skala Likert dan teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being pada remaja akhir dengan orang tua tunggal secara umum berada pada kategori tinggi. Meskipun demikian, dimensi hubungan positif dengan orang lain menunjukkan persentase paling rendah, mengindikasikan bahwa hubungan positif mereka dengan orang lain belum optimal atau masih perlu ditingkatkan. Faktor-faktor seperti durasi kehilangan juga mempengaruhi tingkat psychological well-being; semakin rendah durasi kehilangan, semakin rendah pula tingkat psychological well-being remaja. Remaja yang ditinggalkan ayah cenderung memiliki psychological well-being dalam kategori sedang, sementara yang ditinggalkan ibu atau keduanya cenderung berada pada kategori tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa psychological well-being remaja akhir dengan orang tua tunggal perlu perhatian, terutama pada mereka yang berada di kategori rendah dan sangat rendah, untuk mencegah tindakan yang menyimpang.
No other version available