Text
ANALISIS STRUKTUR PASAR DAN DAYA SAING EKSPOR CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA DI PASAR DUNIA
Crude palm oil (CPO) merupakan produk strategis yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia dan berpotensi besar dalam perdagangan internasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis: (1) Struktur pasar ekspor CPO Indonesia di pasar dunia, (2) Keunggulan komparatif CPO Indonesia dibandingkan pesaing terhadap negara tujuan ekspor, (3) Keunggulan kompetitif CPO Indonesia dibandingkan pesaing terhadap negara tujuan ekspor, (4) Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor CPO Indonesia dibandingkan pesaingnya. Penelitian menggunakan metode kepustakaan dengan cakupan dua negara eksportir utama, yaitu Indonesia dan Malaysia, serta lima negara tujuan ekspor: India, Belanda, Italia, Spanyol, dan China. Penelitian dilaksanakan selama enam bulan, dari Januari hingga Juni 2025. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dalam bentuk data panel periode 2014–2023. Analisis yang digunakan meliputi pangsa pasar dan rasio konsentrasi (CR/HHI) untuk mengukur struktur pasar; RCA, RSCA, dan TSI untuk keunggulan komparatif; ECI, CMSA, dan EPD untuk keunggulan kompetitif; serta gravity model dengan estimasi PPML untuk menganalisis faktor determinan ekspor. Hasil penelitian: (1) Analisis struktur pasar menunjukkan bahwa ekspor CPO Indonesia dan Malaysia berada pada tingkat konsentrasi tinggi, tercermin dari nilai CR5 > 80% dan HHI > 2.500 yang mengindikasikan struktur pasar oligopoli. Dominasi konsentrasi mengarah pada pasar India yang menyerap lebih dari 40% total ekspor. (2) Analisis keunggulan komparatif menunjukkan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki daya saing kuat pada ekpor CPO, dengan perbandingan RCA di India (15,34 vs 15,35), Belanda (33,50 vs 35,70), Italia (107,92 vs 118,37), Spanyol (78,49 vs 91,01), dan China (25,51 vs 15,78). Nilai RSCA yang positif mengindikasikan keunggulan komparatif tetap terjaga meskipun trennya mengalami penurunan. Indikator TSI menunjukkan Indonesia sebagai net exporter dominan (0,9996), lebih tinggi dibanding Malaysia (0,8254). (3) Analisis keunggulan kompetitif menunjukkan pertumbuhan ekspor Indonesia melampaui ekspor global dengan nilai ECI di pasar India (1,05), Spanyol (1,10), dan China (12,33), sementara Malaysia unggul di India (1,06) dan China (7,90). CMSA mengindikasikan bahwa kinerja ekspor tidak didorong oleh efek komposisi produk (nilai negatif Indonesia -0,0003065; Malaysia -0,0002594). Efek distribusi pasar menunjukkan orientasi ekspor Indonesia hanya diarahkan ke pasar tumbuh (India), sedangkan Malaysia ke India, Spanyol, dan China. Efek daya saing Indonesia hanya positif di China (0,0000026), sementara Malaysia negatif di seluruh pasar. Posisi pasar berdasarkan EPD menempatkan ekspor Indonesia pada kategori lost opportunity (India, China) serta retreat (Belanda, Italia, Spanyol). Malaysia juga didominasi kondisi retreat (India, Belanda, China) dan lost opportunity (Italia, Spanyol). (4) Hasil estimasi PPML menunjukkan model yang sangat baik (Pseudo R² Indonesia = 0,9797; Malaysia = 0,9597). Variabel PDB riil per kapita (lnGDPpc) dan jarak ekonomi (lnDISTeco) berpengaruh negatif signifikan, sedangkan populasi (lnPOP), konsumsi CPO (lnCONS), nilai tukar riil (lnRER), dan tarif impor (lnTAR) berpengaruh positif signifikan pada ekspor Indonesia. Harga ekspor (lnPx) tidak signifikan, dan DFTA hanya berdampak positif namun tidak signifikan. Sementara pada Malaysia, DFTA berpengaruh positif signifikan, sedangkan harga ekspor (lnPx) dan tarif impor (lnTAR) tidak signifikan.
No other version available